Perjalanan duaribu kilo, dimulai dengan satu langkah dan ribuan langkah berikutnya.. Memasuki ruang tunggu saya mulai merasa sendiri. Karena penerbangan saya menuju Taipei, kebanyakan dari orang-orang diruang tunggu berbicara bahasa Mandarin. Dan saya menikmati kesendiran itu.
Sudah pukul 14.00, penumpang dipanggil untuk memasuki pesawat. Jantung saya berdegup luar biasa kencang dan semakin kencang ketika saya sudah menemukan kursi saya, mulai duduk dan take off siap dimulai. Baru kali ini saya merasakan perasaan yang saya tidak bisa gambarkan. Akhirnya beberapa jam kemudian, sampai juga saya di Bandara Taipei, Taiwan. Saya langsung melanjutkan perjalanan, mencari arah kemana saya harus melangkah, dan saya pun naik kereta khusus bandara di Taipei. Setelah saya temukan gate yang saya cari, ternyata saya masih punya cukup waktu luang. Saya nyalakan handphone, saya kabari orang tua, Kak Adyatma, Kak Deden dan Camp director, tak lupa saya juga mengabari Papa Neil, Camp master dari Rhode Island USA yang sangat ramah. Beberapa lama kemudian, gate pun dibuka dan saya mulai memasuki ruang tunggu.
"Assalamualaikum" seorang laki-laki paruh baya menyapa saya,
dan saya jawab " Waalaikumsalam",
kemudian dia kembali bertanya, "from Malaysia or Indonesia"
saya jawab "Indonesia, thanks for asking, how about you Sir? How do you know my greeting?"
"my grand mother is wearing Jilbab too and she is from Indonesia, but I am American"
Kemudian kami melanjutkan perbincangan kami yang cukup menarik, neneknya seorang muslim, dari padang, tapi mereka semua kini sudah menjadi American Citizen. Pembicaraan kami pun usai ketika kami harus memasuki pesawat dan kami mngucapkan selamat jalan - meskipun kami di satu pesawat namun kursi kami sangat berjauhan-.
Begitu pesawat lepas landas, saya sudah mulai terbiasa dan saya memang harus terbiasa karena masih ada dua penerbangan lagi setelah Taipei-Los Angeles.
No comments:
Post a Comment