Thursday, June 16, 2011

Sedikit cerita di Jakarta-Taipei-Los Angeles

Perjalanan duaribu kilo, dimulai dengan satu langkah dan ribuan langkah berikutnya.. Memasuki ruang tunggu saya mulai merasa sendiri. Karena penerbangan saya menuju Taipei, kebanyakan dari orang-orang diruang tunggu berbicara bahasa Mandarin. Dan saya menikmati kesendiran itu. 

Sudah pukul 14.00, penumpang dipanggil untuk memasuki pesawat. Jantung saya berdegup luar biasa  kencang dan semakin kencang ketika saya sudah menemukan kursi saya, mulai duduk dan take off  siap dimulai. Baru kali ini saya merasakan perasaan yang saya tidak bisa gambarkan. Akhirnya beberapa jam kemudian, sampai juga saya di Bandara Taipei, Taiwan. Saya langsung melanjutkan perjalanan, mencari arah kemana saya harus melangkah, dan saya pun naik kereta khusus bandara di Taipei. Setelah saya temukan gate yang saya cari, ternyata saya masih punya cukup waktu luang. Saya nyalakan handphone, saya kabari orang tua, Kak Adyatma, Kak Deden dan Camp director, tak lupa saya juga mengabari Papa Neil, Camp master dari Rhode Island USA yang sangat ramah. Beberapa lama kemudian, gate pun dibuka dan saya mulai memasuki ruang tunggu.

"Assalamualaikum" seorang laki-laki paruh baya menyapa saya,
dan saya jawab " Waalaikumsalam", 
kemudian dia kembali bertanya, "from Malaysia or Indonesia" 
saya jawab "Indonesia, thanks for asking, how about you Sir? How do you know my greeting?"
"my grand mother is wearing Jilbab too and she is from Indonesia, but I am American" 

Kemudian kami melanjutkan perbincangan kami yang cukup menarik, neneknya seorang muslim, dari padang, tapi mereka semua kini sudah menjadi American Citizen. Pembicaraan kami pun usai ketika kami harus memasuki pesawat dan kami mngucapkan selamat jalan - meskipun kami di satu pesawat namun kursi kami sangat berjauhan-.
Begitu pesawat lepas landas, saya sudah mulai terbiasa dan saya memang harus terbiasa karena masih ada dua penerbangan lagi setelah Taipei-Los Angeles.

Wednesday, June 15, 2011

Memulai Perjalanan dari Asia tenggara ke Amerika

Jum'at 28 Mei pukul 19.00 WIB, saya masih berdiri di terminal blok M, menunggu bus arah Bekasi Timur- Blok M. Seharusnya saya sudah relax dirumah dengan bagasi yang siap angkut, namun demi silaturahmi ke Kwarda DKI di Jakarta Pusat, saya masih harus bergelut dengan kepadatan Jakarta yang luar biasa. Pukul 19.20 bus  akhirnya datang juga. Naiklah saya dengan bawaan yang bejibun dan penumpang yang bejubel lantaran bus baru muncul lagi setelah dua jam terhitung dari saya menunggu di terminal blok M.

Dengan macetnya Jakarta yang masih bertahan, akhirnya pukul 21.00 saya tiba di Bekasi timur. Dibantu oleh seorang karib, saya masih belum bisa pulang. Saya harus mengambil amanat dari Kwarda Jawa Barat. Baru setelah itu mobil innova hitam meluncur menuju tol Cikampek. Pukul 22.30 barulah saya sampai dirumah dengan perut yang super keroncongan. Meski mata sudah 5 watt, saya harus tetap terjaga untuk packing kedua bagasi saya yang totalnya sekitar 48kg.

Ayam belum berkokok, saya sudah membuka mata yang masih merah. Saya periksa ulang semua barang bawaan, dokumen-dokumen, pakaian, seragam pramuka, bahan persentasi, materi kebudayaan Jawa Barat dan Indonesia, dan tek-tek bengek lainnya. Akhirnya pukul 9 pagi saya sudah siap berangkat dan Aba (panggilan untuk ayah) bertanya:
"sudah siap semua?" saya jawab "sudah", Aba bertanya lagi "ngomong-ngomong tiket pesawat ke Amerika kayak gimana siy teh"

ketika itulah saya menyadari saya lupa akan tiket saya. Sejenak suasana menjadi panas dan panik. Dengan kelelahan yang memuncak, beban pikiran dan resah, takut bepergian sendiri, dan panik, semua menjadi satu tak terbendung lagi air mata untuk menetes. Dengan teliti akhirnya tiketnya ketemu juga.

Kami sekeluarga melanjutkan perjalanan kembali menuju Bandara Soetta, dan macet luar biasa. 4 jam menjelang take off saya masih santai, saya pun menyantap sarapan saya. 3 jam menjelang take off saya sudah mulai gerah dan syukurnya kami tiba di terminal 2D sesaat setelah itu. Saya langsung mencari Money Changer dan ketika saya bertanya lokasinya tersebut kepada seorang bapak, Bapak itu malah balik bertanya, "Memang TKW dimana? nanti aja tuker uangnya." tanpa perduli kepentingan saya apa, dia lihat saya berkerudung lantas saya dnilai TKW yang akan menjadi kuli di Negeri Saudi.
Ironis
tapi itu realitanya. terilntas dibenak saya kapan paradigma ini berakhir, Bangsa ini dianggap sedemkian murahnya oleh rakyatnya sendiri, menilai setiap wanita berkerudung sebagai TKW. Entah kapan berakhir, sedangkan masih banyak oknum yang menikmati kondisi memalukan ini.  Negri nan elok lagi subur, tapi rakyatnya mencari sesuap nasi di negri nan gersang.
 SUNGGUH IRONIS

Saya mencoba kembali fokus, saya cari money changer, dan akhirnya dapat juga. Tak lama kemudian satu per satu kawan-kawan yang ingin mengantar mulai berdatangan, termasuk Kak Deden, staff Hub. Lu Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia yang sering saya repotkan. Saya pun berpamitan dengan kedua orang tua, mamang, ncing, uwa, santi (karib yang tahun lalu saya antarkan dia ke bandara ini dengan momment yang sama),Yovi (sahabat terbaik yang selalu ada) dan beberapa kerabat. Rasanya sangat luar biasa bingung. Saya senang bisa membuat mereka bangga, karena saya bisa berangkat ke Amerika sebagai International Staff of Boy Scouts of America dimana hanya tiga orang terpilih dari seluruh Indonesia. Disisi lain saya takut, berjalan sendiri di Negeri orang, hanya bermodal secarik itinerary penerbangan. Saya tidak kuasa  menahan airmata, tapi harus cepat-cepat saya hapus, saya harus menunjukkan saya mampu dan saya akan baik-baik saja. Check-in, Kak Deden masih bisa menemani, namun memasuki pintu imigrasi, hanya langkah kaki saya yang mengiringi perjalanan panjang ini..


Berjuta gejolak memenuhi dada, namun saya terus meyakini diri, dan saya pun melangkah pasti menuju penerbangan pertama saya, Jakarta-Taipei. Bismillahirrohmanirrohim. Semoga Tuhan merestui dan melindungi saya dan semoga permulaan ini menjadi awal yang baik.